Loading...

Rabu, 04 Mei 2011

literatur tuna daksa


TUNA DAKSA
Definisi Tuna Daksa Menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah
Luar Biasa, Tuna Daksa berasal dari kata “Tuna“ yang berarti rugi,
kurang dan “daksa“ berarti tubuh. Dalam banyak literitur cacat tubuh
atau kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan
sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“
(kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan
karena seringkali terdapat gangguan kesehatan. Sebagai contoh, otak
adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia. Apabila ada sesuatu yang
salah pada otak (luka atau infeksi), dapat mengakibatkan sesuatu pada
fisik/tubuh, pada emosi atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang
terjadi pada bagian otak baik sebelum, pada saat, maupun sesudah
kelahiran, menyebabkan retardasi dari mental (tunagrahita) 2.
Klasifikasi Penderita Tuna Daksa Pada dasarnya kelainan pada anak tuna
daksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan
pada sistem serebral (Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem
otot dan rangka (Musculus Skeletal System). a. Kelainan pada sistem
serebral (cerebral system disorders). Penggolongan anak tuna daksa
kedalam kelainan sistem serebral (cerebral) didasarkan pada letak
penyebab kelahiran yang terletak didalam sistem syaraf pusat (otak dan
sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syarap pusat
mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum
tulang belakang sumsum merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup
manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat
kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Kelompok
kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy (CL). Cerebral Palsy
dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi
anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
Penggolongan Menurut Derajat Kecacatan Menurut derajat kecacatan,
cerebal palsy dapat digolongkan atas : golongan ringan, golongan
sedang, dan golongan berat. 1. Golongan ringan adalah : mereka yang
dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong
dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup
bersama-sama dengan anak normal lainnya, meskipun cacat tetapi tidak
mengganggu kehidupan dan pendidikannya. 2. Golongan sedang : ialah
mereka yang membutuhkan treatment/latihan khusus untuk bicara,
berjalan, dan mengurus dirinya sendiri, golongan ini memerlukan
alat-lat khusus untuk membantu gerakannya, seperti brace untuk membantu
penyangga kaki, kruk/tongkat sebagai penopang dalam berjalan. Dengan
pertolongan secara khusus, anak-anak kelompok ini diharapkan dapat
mengurus dirinya sendiri. 3. Golongan berat : anak cerebral palsy
golongan ini yang tetap membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara,
dan menolong dirinya sendiri, mereka tidak dapat hidup mandiri
ditengah-tengah masyarakat. Penggolongan Menurut Tipografi Dilihat dari
tipografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh, Celebral Palsy
dapat digolongkan menjadi 6 (enam) golongan, yaitu: 1. Monoplegia,
hanya satu anggota gerak yang lumpuh misalnya kaki kiri, sedangkan kaki
kanan dan keduanya tangannya normal. 2. Hemiplegia, lumpuh anggota
gerak atas dan bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan dan kaki
kanan , atau tangan kiri dan kaki kiri. 3. Paraplegia, lumpuh pada
kedua tungkai kakinya. 4. Diplegia, kedua tangan kanan dan kiri atau
kedua kaki kanan dan kiri(paraple-gia). 5. Triplegia, tiga anggota
gerak mengalami kelumpuhan, misalnya tangan kanan dan kedua kakinya
lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh. 6. Quadriplegia,
anak jenis ini mengalami kelumpuhan seluruh anggota geraknya. Mereka
cacat pada kedua tangan dan kakinya. Quadriplegia bisa juga disebut
triplegia. Penggolongan Menurut Fisiologi Dilihat dari kelainan gerak
dilihat dari segi letak kelainan di otak dan fungsi geraknya(Motorik),
anak Cerebral Palsy dibedakan menjadi: 1. Spastik. Tipe ini ditandai
dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun
seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu akan digerakkan sesuai dengan
kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional kekakuan atau
kekejangan itu makin bertambah, sebaliknya dalam keadaan tenang, gejala
itu menjadi berkurang. Pada umumnya anak CP jenis spastik ini memiliki
tingkat kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Diantara mereka ada yang
normal bahkan ada yang diatsa normal. 2. Athetoid. Pada tipe ini tidak
terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat digerakkan dengan
mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem gerakan. Hampir semua
gerakan terjadi diluar kontrol dan koordinasi gerak. 3. Ataxia. Ciri
khas tipe ini adalah seakan-akan kehilangan keseimbangan,. Kekakuan
memang tidak tampak tetapi mengalami kekakuan pada waktu berdiri atau
berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem koordinasi
dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tuna tipe ini
mengalami gangguan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada saat
makan mulut terkatup terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan
sampai ujung mulut. 4. Tremor. Gejala yang tampak jelas pada tipe ini
adalah senantiasa dijumpai adanya gerakan-gerakan kecil dan
terus-menerus berlangsung sehingga tampak seperti bentuk
getaran-getaran. Gerakan itu dapat terjadi pada kepala, mata, tungkai,
dan bibir. 5. Rigid. Pada tipe ini didapat kekakuan otot, tetapi tidak
seperti pada tipe spastik, gerakannya tanpak tidak ada keluwesan,
gerakan mekanik lebih tampak. 6. Tipe Campuran. Pada tipe ini seorang
anak menunjukan dua jenis ataupun lebih gejala tuna CP sehingga
akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki
satu jenis/tipe kecacatan. b. Kelainan Pada Sistem Otot dan Rangka
(Musculus Scelatel System) Penggolongan anak tuna daksa kedalam
kelompok system otot dan rangka didasarkan pada letak penyebab kelainan
anggota tubuh yang mengalami kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi,
dan tulang belakang. Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara
lain meliputi: a. Poliomylitis. Penderita polio adalah mengalami
kelumpuhan otot sehingga otot akan mengecil dan tenaganya melemah,
peradangan akibat virus polio yang menyerang sumsum tulang belakang
pada anak usia 2 (dua) tahun sampai 6 (enam) tahun. b. Muscle
Dystrophy. Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada
penderita muscle dystrophy sifatnya progressif, semakin hari semakin
parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris yaitu pada kedua tangan
atau kedua kaki saja, atau kedua tangan dan kedua kakinya. Penyebab
terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti. Tanda-tanda
anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3
(tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak
lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering
terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri
dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda. 3. Penyebab
Tuna Daksa Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan
pada anak hingga menjadi tuna daksa. Kerusakan tersebut ada yang
terletak dijaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem
musculus skeletal. Adanya keragaman jenis tuna daksa dan masing-masing
kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya
kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan
sesudah lahir. a . Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal) Pada fase,
kerusakan terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan, kerusakan
disebabkan oleh: a. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu
mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya,
misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis. b. Kelainan
kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusat tertekan,
sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak. c. Bayi dalam
kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung mempengaruhi sistem syarat
pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu. d. Ibu yang sedang
mengandung mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan
terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan
perutnya membentur yang cukup keras dan secara kebetulan mengganggu
kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat. b. Sebab-sebab pada
saat kelahiran (fase natal, peri natal) Hal-hal yang dapat menimbulkan
kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antara lain: a. Proses
kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu kecil sehingga
bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen menyebabkan
terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi, akibatnya jaringan
syaraf pusat mengalami kerusakan. b. Pemakaian alat bantu berupa tang
ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak
jaringan syaraf otak pada bayi. c. Pemakaian anestasi yang melebihi
ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi
yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi,
sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya. c.
Sebab-sebab setelah proses kelahiran (fase post natal) Fase setelah
kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai masa perkembangan
otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun. Hal-hal yang dapat
menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah: a. Kecelakaan/trauma
kepala, amputasi. b. Infeksi penyakit yang menyerang otak. c.
Anoxia/hipoxia. 4. Karakteristik Anak Tuna Daksa Derajat keturunan akan
mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan,
kecenderungan untuk bersifat pasif. Demikianlah pada halnya dengan
tingkah laku anak tuna daksa sangat dipengaruhi oleh jenis dan derajat
keturunannya. Jenis kecacatan itu akan dapat menimbulkan perubahan
tingkah laku sebagai kompensasi akan kekurangan atau kecacatan.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tuna daksa cenderung merasa malu,
rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari llingkungan. Disamping
karakteristik tersebut terdapat beberapa problema penyerta bagi anak
tuna daksa antara lain: a. Kelainan perkembangan/intelektual. b.
Gangguan pendengaran. c. Gangguan penglihatan. d. Gangguan taktik dan
kinestetik. e. Gangguan persepsi f. Gangguan emosi. 5. Implikasi
Pendidikan Anak Tuna Daksa Dalam dunia pendidikan pada prinsipnya guru
mempunyai peranan ganda. Disatu pihak, guru berfungsi sebagai pengajar,
pendidik, dan pelatih bagi anak didik. Dipihak lain, guru berfungsi
sebagai pengganti orang tua murid di sekolah. Dengan demikian secara
tidak langsung mereka dituntut untuk menjadi manusia serba bisa dan
serba biasa, lebih-lebih bila dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan
pada saat ini, yaitu bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya masih
mempunyai anggapan yang keliru. Mereka berpendapat bahwa berhasil atau
tidaknya pendidikan anak-anak mereka diserahkan sepenuhnya pada pihak
sekolah, termasuk didalamnya para guru, tanpa ikut campur mereka.
Keadaan semacam ini lebih komplit lagi dalam dunia pendidikan luar
biasa karena subjek didik yang dihadapi memiliki
keterbatasan-keterbatasan tertentu, baik kemanpuan fisik, mental, emosi
maupun dalam usaha penyesuaian diri dengan pihak luar atau lingkunagan
sekitar. Oleh karena itu, tugas guru semakin berat yang dituntut
keahlian serta keterampilan tertentu, baik dalam bidang metedologi yang
bersifat khusus, maupun dalam bidang pelayanan terapi. Pelayanan terapi
yang diperlukan anak tuna daksa antara lain: - Latihan wicara (speech
Therapy) - Fisioterapi - Occupational therapy - Hydro Therapy Anak tuna
daksa pada dasarnya sama dengan anak-anak normal lainnya. Kesamaan
tersebut dapat dilihat dari fisik dan psiko-sosial. Dari segi fisik,
mereka dapat makan, minum, dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam
beberapa menit yaitu bernafas. Sedangkan dari aspek psiko-sosial,
mereka memerlukan rasa aman dalam bermobilisasi, perlu afiliasi, butuh
kasih sayang dari orang lain, diterima dan perlu pendidikan. Adapun
unsur kesamaan kebutuhan antara anak tuna daksa dan anak normal, karena
pada dasarnya mereka memiliki fitrah yang sama sebagai manusia.
Pandangan yang melihat anak tuna daksa dan anak normal dari sudut
kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang
semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa
orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang
muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita
melihat anak tuna daksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu,
pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tuna daksa perlu
dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik
semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tuna daksa
perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan
masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Anak-anak tuna daksa diharapkan memiliki masa
depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat. 6.
Pelayanan Pendidikan Tuna Daksa Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan
bagi anak tidak selalu harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan
khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tuna daksa) pendidikannya
dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini
disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tuna daksa dan
lingkungannya. Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984)
menjelaskan system layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk
anak tuna daksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas
dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan disuatu rumah
sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna
edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tuna
daksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tuna daksa memiliki
problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang
anak tuna daksa yang satu dengan anak tuna daksa yang lainnya,
tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya.
Atas dasar kondisi anak tuna daksa tersebut, maka model pelayanan
pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah
Terpadu/Inklusi”. a. Sekolah Khusus Pelayanan pendidikan bagi anak tuna
daksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai
problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti
retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan)
dan emosinya. Pelayanan pendidikan di sekolah khusus ini dibagi menjadi
dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa ringan, dan
unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa sedang. Sekolah Khusus Untuk
Anak Tuna Daksa Ringan (SLB-D) Pelayanan pendidikan diunit tuna daksa
ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tuna daksa yang tidak mempunyai
problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tuna daksa yang
mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata
intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di
sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan
terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational
therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tuna daksa
tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajat kecacatannya
terlalu berat. Sekolah Khusus untuk Anak Tuna daksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan di unit ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa
yang mempunyai problema seperti emosi, persepsi atau campuran dari
ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak
tuna daksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak
normal. b. Sekolah Terpadu/Inklusi Bagi anak tuna daksa dengan problema
penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta
retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan
pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah
reguler/sekolah umum. Karena anak tuna daksa tersebut sudah dapat
mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya.
Walaupun kondisi penyerta anak tuna daksa cukup ringan, sekolah reguler
yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang
terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti
persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau
tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi
roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya
seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan
dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih
terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tuna
daksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak
yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat
membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tuna
daksa dikemudian hari.
SUMBER BUKU OLARAGA ADAPTIF

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar