Rabu, 04 Mei 2011

Tradisi unik masyarakat lubuk jambi kuansing



Masyarakat Kuantan Singingi memiliki beragam tradisi budaya yang unik yang digelar setiap tahun setelah hari raya, seperti pada Idul Fitri 1431 Hijriyah.
Masyarakat Lubuk memiliki budaya perahu baganduang (perahu yang digandeng dua atau tiga) di sepanjang Sungai Batang Kuantan.
Keunikannya terletak pada perahu yang digandeng dua atau tiga unit dengan dihiasi beberapa macam atribut berupa tonggak (tiang) yang diberi lambang tanduk kerbau, hiasan gambar Presiden dan Wakil Presiden, cermin, payung, dan kubah masjid.
Bupati Kuansing H Sukarmis diwakili Asisten Ekonomi dan Pembangunan H Marduyut mengatakan, tradisi ini memiliki keunikan meski di daerah lain juga ada perahu hias,  tetapi keunikan dan makna yang terkandung di dalamnya berbeda.
Hal ini disebabkan, makna yang terkandung dalam perahu ini lebih spesifik dan memberi pencerahan, petunjuk ajaran, dan melambangkan kehidupan yang dialami masyarakat saat ini.
Hal itu, misalnya, payung dalam perahu melambangkan tempat berlindung, tanduk kerbau melambangkan masyarakat hidup dalam peternakan, kubah masjid melambangkan agama Islam, serta bulan dan bintang melambangkan mengaji di surau dan masjid.
"Tradisi budaya perahu bergandeng ini jangan sampai menjadi slogan semata, tetapi harus dilestarikan agar dapat dikunjungi para wisatawan," paparnya.
Tokoh masyarakat Drs Nasrun Rasyid menilai perahu yang dimiliki masyarakat Lubuk Jambi ini tidak ada duanya di Indonesia dan sangat indah dipandang serta memiliki keunikan tersendiri.
Oleh karena itu, tradisi ini perlu diperkenalkan kepada para wisatawan pada masa mendatang karena tidak pernah datang begitu saja, tetapi memerlukan proses bertahun-tahun lamanya, ujarnya.
Perahu bergandeng yang ditampilkan tahun ini diikuti delapan perahu yang berasal dari lima desa, yang hilir dari hulu Sungai Kuantan dan menuju pancang finish (berjarak satu kilometer).
Semua perahu yang dihias indah bersama awaknya itu secara beriringan dipertontonkan kepada masyarakat yang berjejel di pinggir Sungai Kuantan.
Sumber :
ANT dan Kompas

Air Terjun Guruh Gemurai, Wisata Alam lubuk jambi Kuansing



Air Terjun Guruh Gemurai, Wisata Alam KuansingKabupaten Kuntan Singingi tidak hanya terkenal dengan wisata budayanya seperti Pacu Jalur namun juga wisata alamnya. Seperti Wisata Alam air terjun, saat ini yang menjadi prioritas pembenahan pemerintah daerah Kab.Kuansing adalah Air terjun Guruh Gemurai. Beberapa waktu lalu tim sungaikuantan.com berkunjung kesana. Pemda Kuansing memang telah membenahhi objek wisata ini. Tersedianya jalan yang beraspal sehingga mudah dijangkau, adanya areal parkir, pentas terbuka untuk mengadakan acara-acara, seperti konser musik dan lainnya, juga mushola telah tersedia di Air Terjun Guruh Gemurai.

Air Terjun Guruh Gemurai, Wisata Alam Kuansing
Air Terjun Guruh Gemurai terletak di Kecamatan Kuantan Mudik (Lubuk Jambi), tepatnya di Desa Kasang. Anda bisa mencapainya dengan kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Jaraknya dari Taluk Kuantan ibu Kota Kab.Kuansing sekitar 25 kilometer ke arah Kiliran Jao (perbatasan Sumbar-Riau). Anda akan melewati Pasar Tradisional Lubuk Jambi, lalu menemukan dua jalan yang bercabang dua, pilihlah jalan sebelah kiri nan menanjak, daerah ini namanya Desa Koto (Kote Ate), melewati jalan sedikit berkelok, lima menit perjalanan anda akan sampai ke Desa Kasang, dan teruskanlah perjalanan anda sepuluh menit lagi, maka taka lama anda akan bertemu dengan gerbang di sebelah kanan jalan raya yang bertuliskan Selamat Datang di Objek Wisata Air Terjun Guruh Gemurai. Sampai saat ini tarif masuk ke obyek wisata ini sesuai dengan Perbup telah diatur oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, yakni Rp. 1000 untuk untuk kenderaan roda dua, Rp. 1.500 untuk kenderaan roda empat, Rp. 3000 untuk orang dewasa dan Rp. 1000 untuk anak-anak..
Air Terjun Guruh Gemurai, Wisata Alam Kuansing
Guruh Gemurai adalah sebuah nama yang diambil dari bahasa daerah setempat. Guruh berarti gemuruh dari suara air tejun. Sedangkan Gemurai adalah suara percikan air yang berserakan. Maka Guruh Gemurai diartikan adalah air terjun yang bergemuruh dan mempunyai percikan.

Pada akhir pekan dan hari-hari libur, Objek Wisata Air terjun Guruh Gemurai ramai dikunjungi dan menjadi andalan Objek Wisata andalan Kab.Kuansing.

Aspek Perkembangan Motorik dan Keterhubungannya dengan Aspek Fisik dan Intelektual Anak

Deskripsi Perkembangan Motorik Usia 3-5 tahun
Tim penulis CRI (1997) menjelaskan bahwa anak usia 3 tahun memiliki kekuatan fisik yang mulai berkembang, tapi rentang konsentrasinya pendek, cenderung berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Meskipun memiliki rentang konsentrasi yang relatif pendek, mereka menjadi ahli pemecah masalah dan dapat memusatkan perhatian untuk suatu periode yang cukup lama jika topik yang diajarkan menarik bagi mereka. Permainan mereka bersifat sosial dan sekaligus pararel. Pada usia ini, anak mengembangkan keterampilan motorik kasar dan melakukan gerakan fisik yang sangat aktif. Energi mereka seolah-olah tiada habisnnya.
Pada usia 5 tahun, rentang konsentrasi anak menjadi agak lama. Kemampuan mereka untuk berfikir dan memecahkan masalah juga semakin berkembang. Anak dapat memusatkan diri pada tugas-tugas dan berusaha untuk memenuhi standar mereka sendiri. Secara fisik, pada usia ini fisik anak sangat lentur dan tertarik pada senam dan olah raga yang teratur. Mereka mengembangkan kemampuan motorik yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan seperti memakai baju, menggunting, menggambar dan menulis lebih mudah dilakukan. Secara terperinci, deskripsi perkembangan fisik anak usia 3-5 tahun adalah sebagai berikut.
Tahap Perkembangan Motorik Anak
Usia
Tahap Perkembangan
Tiga tahun
  • Berdiri di atas salah satu kaki selama 5-10 detik
  • Berdiri di atas kaki lainnya selama beberapa saat
  • Menaiki dan menuruni tangga, dengan berganti-ganti dan berpeganngan pada peganngan tangga
  • Berlari berputar-putar tanpa kendala
  • Melompat ke depan dengan dua kaki 4 kali
  • Melompat dengan salah satu kaki 5 kali
  • Melompat dengan sebelah kaki lainnya dalam satu lompatan
  • Menendang bola ke belakang dan ke depan dengan mengayunkan kaki
  • Menangkap bola yang melambung dengan mendekapnya ke dada
  • Mendorong, menarik dan mengendarai mainan beroda atau sepeda roda tiga
  • Mempergunakan papan luncur tanpa bantuan
  • Membangun menara yang terdiri dari 9 atau 10 kotak
  • Menjiplak garis vertical, horizontal dan silang
  • Menjiplak lingkaran
  • Mempergunakan kedua tangan untuk mengerjakan tugas.
  • Memegang kertas dengan satu tangan dan memepergunakan gunting untuk memotong selembar kertas berukuran 5 inci persegi menjadi dua bagian.
Empat tahun
  • Berdiri di atas satu kaki selama 10 detik
  • Berjalan maju dalam satu garis lurus dengan tumit dan ibu jari sejauh 6 kaki
  • Berjalan mundur dengan ibu jari ke tumit
  • Lomba lari
  • Melompat ke depan 10 kali
  • Melompat kebelakang sekali
  • Bersalto/ berguling ke depan
  • Menendang secara terkoordinasi ke belakang dank e depan dengan kaki terayun dan tangan mengayun kea rah berlawanan secara bersamaan.
  • Dengan dua tangan menangkap bola yang dilemparkan dari jarak 3 kaki
  • Melempar bola kecil dengan kedua tangan ke pada seseorang yang berjarak 4-6 kaki darinya
  • Membangun menara setinggi 11 kotak
  • Menggambar sesuatu yang berarti bagi anak tersebut. Dapat dikenali orang lain
  • Mempergunakan gerakan-gerakan jemari selama permainan jari
  • Menjiplak gambar kotak
  • Menulis beberapa huruf
Lima tahun
  • Berdiri di atas kaki yang lainnya selama 10 detik
  • Berjalan di atas besi keseimbangan ke depan, ke belakang dan ke samping
  • Melompat ke belakang dengan dua kali berturut-turut
  • Melompat dua meter dengan salah satu kaki
  • Mengambil satu atau dua langkah yang teratur sebelum menendang bola
  • Menangkap bola tennis dengan kedua tangan
  • Melempar bola dengan memutar badan dan melangkah ke depan
  • Mengayun tanpa bantuan
  • Menangkap dengan mantap
  • Menulis nama depan
  • Membangun menara setinggi 12 kotak
  • Mewarnai dengan garis-garis
  • Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan 2 jari
  • Menggambar orang beserta rambut dan hidung
  • Menjiplak persegi panjang dan segi tiga
  • Memotong bentuk-bentuk sederhana.
Diadaptasi dari CRI (1997)
Perkembangan motorik anak bisa di pantau dengan melakukan suatu tes. Tes yang umum dilakukan untuk memantau perkembangan motorik adalah tes Denver. Tes ini membagi perkembangan anak jadi empat, yaitu perkembangan personal sosial, perkembangan bahasa, serta perkembangan motorik kasar dan motorik halus adaptif. Perkembangan bayi akan diamati setiap 1 bulan sekali. Sedangkan balita, atau tepatnya setelah anak menginjak usia 2 tahun ke atas, cukup 3 bulan sekali. Tes Denver merupakan checklist untuk mempermudah pemantauan akan perkembangan anak, apakah anak sesuai dengan perkembangan usianya saat itu atau tidak.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak. Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.
Pada umumnya anak usia 3 sampai 4 tahun memiliki kekuatan fisik yang mulai berkembang, tapi rentang konsentrasinya pendek, cenderung berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Sedangkan pada usia 5 tahun Secara fisik, pada usia ini fisik anak sangat lentur dan tertarik pada senam dan olah raga yang teratur. Mereka mengembangkan kemampuan motorik yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan seperti memakai baju, menggunting, menggambar dan menulis lebih mudah dilakukan
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menstimulasi perkembangan motorik anak adalah sebagai berikut:
  • Memberikan kesempatan belajar anak untuk mempelajari kemampuan motoriknya, agar ia tak mengalami kelambatan perkembangan.
  • Memberikan kesempatan mencoba seluas-luasnya agar ia bisa menguasai kemampuan motoriknya.
  • Memberikan contoh yang baik, karena mempelajari dan mengembangkan kemampuan motoriknya lewat cara meniru, si kecil perlu mendapat contoh (model) yang tepat dan baik.
  • Memberikan bimbingan karena meniru tanpa bimbingan tak akan mendapatkan hasil optimal. Ini penting agar ia mengenali kesalahannya.
  • Penggunaan KMS (Kartu Menuju Sehat) yang bisa memantau perkembangan motorik anak secara praktis, untuk melihat apakah anak berkembang sesuai dengan tahapannya atau tidak.
[Endah, http://parentingislami.wordpress.com]
DAFTAR PUSTAKA
CRI Team, Pembelajaran Berpusat pada Anak, Washington: CRI
Petterson, Candida (1996) Looking forward through the Lifespan, Australia: Prentice Hall
Santrock, John (2007) Child Development, New York: McGrow
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakaryahttp://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg05719.html


Aspek Perkembangan Motorik dan Keterhubungannya dengan Aspek Fisik dan Intelektual Anak (part 2)




cimg1204
B. Urgensi Perkembangan Motorik Anak
Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap konstelasi perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut:
a. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.
b. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.
c. Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.
d. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkankan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan)
e. Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self-concept atau kepribadian anak.




Stimulasi yang bisa diberikan unruk mengoptimalkan perkembangan motorik anak adalah:
  1. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
  2. Keterampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olah raga.
  3. Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
  4. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.
  5. Gerakan-gerakan ibadah shalat
Perkembangan motorik anak akan lebih teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot (CRI, 1997). Jika kegiatan anak di dalam ruangan, pemaksimalan ruangan bisa dijadikan strategi untuk menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk berlari, berlompat dan menggerakan seluruh tubuhnya dengan cara-cara yang tidak terbatas. Selain itu, penyediaan peralatan bermain di luar ruangan bisa mendorong anak untuk memanjat, koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuh bagian atas dan juga bagian bawah. Stimulasi-stimulasi tersebut akan membantu pengoptimalan motorik kasar. Sedangkan kekuatan fisik, koordinasi, keseimbangan dan stamina secara perlahan-lahan dikembangkan dengan latihan sehari-hari. Lingkungan luar ruangan tempat yang baik bagi anak untuk membangun semua keterampilan ini.
Kemampuan motorik halus bisa dikembangkan dengan cara anak-anak menggali pasir dan tanah, menuangkan air, mengambil dan mengumpulkan batu-batu, dedaunan atau benda-benda kecil lainnya dan bermain permainan di luar ruangan seperti kelereng. Pengembangan motorik halus ini merupakan modal dasar anak untuk menulis.
Keterampilan fisik yang dibutuhkan anak untuk kegiatan serta aktifitas olah raga bisa dipelajari dan dilatih di masa-masa awal perkembangan. Sangat penting untuk mempelajari keterampilan ini dengan suasana yang menyenangkan, tidak berkompetisi agar anak-anak mempelajari olah raga dengan senang dan merasa nyaman untuk ikut berpartisipasi. Hindari permainan di mana seseorang atau sekelompok orang menang dan kelompok lain kalah. Anak-anak yang secara terus menerus kalah dalam sebuah permainan memiliki kecenderungan merasa kurang percaya akan kemampuannya dan akan berkenti berpartisipasi. Tujuan pendidikan fisik untuk anak-anak yang masih kecil adalah untuk mengembangkan keterampilan dan ketertarikan fisik jangka panjang (CRI, 1997).
Perkembangan motorik berbeda tingkatannya pada setiap individu. Anak usia empat tahun bisa dengan mudah menggunakan gunting sementara yang lainnya mungkin akan bisa setelah berusia lima atau enam tahun. Anak tertentu mungkin akan bisa melopmat dan menangkap bola dengan mudah sementara yang lainnya mungkin hanya bisa menangkap bola yang besar atau berguling-guling. Dalam hal ini orang tua dan orang dewasa di sekitar anak harus mengamati tingkat perkembangan anak-anak dan merencanakan berbagai kegiatan yang bisa menstimulainya.
Menurut dr. Karel A.L. Staa, M.D olah raga memberi manfaat bagi perkembangan motorik anak. Selain untuk perkembangan fisiknya, olahraga juga amat baik untuk perkembangan otak serta psikologis anak. Mengikutkan anak pada kelompok olahraga akan meningkatkan kesehatan fisik, psikologis serta psikososialnya. Anak menjadi senang mendapat stimulasi kreativitas yang baik untuk perkembangannya.
Selain berbagai kegiatan stimulai, hal lain yang mempengaruhi perkembangan motorik anak adalah gizi anak. Banyak penelitian yang menerangkan tentang pengaruh gizi terhadap kecerdasan serta perkembangan motorik kasar. Levitsky dan Strupp pada penelitiannya terhadap tikus mengungkapkan bahwa kurang gizi menyebabkan functional isolationism ‘isolasi diri’ yaitu mempertahankan untuk tidak mengeluarkan energi yang banyak (conserve energy) dengan mengurangi kegiatan interaksi sosial, aktivitas, perilaku eksploratori, perhatian, dan motivasi. Aplikasi teori ini kepada manusia adalah bahwa pada keadaan kurang energi dan potein (KEP), anak menjadi tidak aktif, apatis, pasif, dan tidak mampu berkonsentrasi. Akibatnya, anak dalam melakukan kegiatan eksplorasi lingkungan fisik di sekitarnya hanya mampu sebentar saja dibandingkan dengan anak yang gizinya baik, yang mampu melakukannya dalam waktu yang lebih lama. Model functional isolationism yang dilukiskan ini sama dengan teori sebelumnya bahwa aspek-aspek essensial dan universal untuk perkembangan kognitif ditekan oleh mekanisme penurunan aktivitas pada keadaan kurang gizi.
Untuk melakukan suatu aktivitas motorik, dibutuhkan ketersediaan energi yang cukup banyak. Tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari melibatkan suatu mekanisme yang mengeluarkan energi yang tinggi, sehingga yang menderita KEP (Kurang Energi Protein) biasanya selalu terlambat dalam perkembangan motor milestone. Sebagai contoh, pada anak usia muda, komposisi serat otot yang terlibat dalam pergerakan kontraksi kurang berkembang pada anak yang kurang gizi. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tulang sehingga terjadi pertumbuhan badan yang terlambat3.
Tengkurap, merangkak, dan berjalan menurunkan ketergantungan atau kontak yang terus-menerus dengan pengasuhnya. Keadaan ini berpengaruh nyata terhadap mekanisme self-regulatory, sehingga anak menjadi lebih bersosialisasi dan ramah dengan lingkungannya. Sebaliknya, bila terjadi keterlambatan dalam locomotion dan perkembangan motorik akan merusak akses terhadap sumber-sumber eksternal yang berpengaruh kurang baik terhadap regulasi emosional, sehingga akan mengakibatkan terhambatnya perkembangan kecerdasan anak. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, telah dilakukan penelitian di daerah Jawa Barat yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Bogor dan University of California, Davis, USA untuk dapat menerangkan tentang bagaimana mekanisme gizi berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak. Sebanyak tidak kurang dari 17 buah makalah ilmiah dan hasil penelitian ini telah diterbitkan di dalam beberapa jurnal di luar negeri.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang di usia awalnya mendapat makanan suplemen, pada 8 tahun kemudian nilai tes intelektualnya lebih baik dari pada anak yang tidak mendapatkan suplemen. Sesudah memperhitungkan faktor confounder peneliti berkesimpulan bahwa suplemen makanan pada waktu bayi adalah faktor yang menyebabkan perbedaan. Hasil penemuan ini mendemonstrasikan bahwa suplemen makanan selama tiga bulan pada waktu bayi berumur kurang dari 18 bulan membawa keuntungan yang nyata terhadap kecerdasan anak sampai 8 tahun kemudian. Sedangkan terhadap anak yang berumur lebih dari 18 bulan yang sekarang berumur antara 10–12 tahun, keuntungan tersebut tidak nyata. Hasil penelitian tersebut pun menghasilkan suatu dugaan bahwa perkembangan neurologi sebelum berumur 18 bulan berhubungan erat dengan defisiensi gizi yang dapat bersifat permanen. Umur 18 bulan dari hasil penelitian ini dapat merupakan batas atau cut off point. Hasil-hasil penelitian pada tikus menunjukkan bahwa gizi kurang dapat berakibat defisit myelinisasi pada otak yang irreversibel. Pada tikus, masa-masa kritis terjadi pada saat umur 8–14 hari, dan berdasarkan periode puncak pertumbuhan maka pada manusia dapat terjadi pada usia 6–18 bulan15. Sehubungan dengan hal tersebut, maka bayi kurang gizi yang tidak mendapat suplemen diduga mengalami defisit myelinisasi. Artinya terjadi kesulitan dalam menghantarkan informasi dari satu neuron ke neuron yang lain dan mengakibatkan intelektual anak rendah. Hal ini pun pada akhirnya mempengaruhi perkembangan motorik anak. Refleks anak terhadap lingkungannya akan terhambat.
Data hasil penelitian kroseksional tersebut tidak merupakan data yang representatif dari perubahan dalam diri seorang anak. Walaupun dalam banyak hal perkembangan motorik milestone tidak selamanya mengikuti suatu perubahan kronologi yang ketat, data dari hasil penelitian tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengestimasi perkembangan motorik pada umur anak tertentu.
Apabila dibandingkan dengan negara-negara Barat, maka perkembangan motorik milestone pada anak Indonesia tergolong rendah. Di Amerika, anak mulai berjalan pada umur 11,4–12,4 bulan11, dan anak-anak di Eropa antara 12,4–13,6 bulan12. Sedangkan di Indonesia, pada sampel yang diteliti adalah 14,02 bulan. Informasi yang cukup untuk menerangkan perbedaan tersebut belum ada, namun besar kemungkinan bahwa faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperanan. Penjabaran tersebut di atas, menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pember ian stumulasi untuk mengembangkan kemampuan motorik merupakan hal yang urgen atau penting.
Bagaimanakah Perkembangan Motorik Usia 3-5 tahun ??
bersambung…
[Endah, http://parentingislami.wordpress.com]

literatur tuna daksa


TUNA DAKSA
Definisi Tuna Daksa Menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah
Luar Biasa, Tuna Daksa berasal dari kata “Tuna“ yang berarti rugi,
kurang dan “daksa“ berarti tubuh. Dalam banyak literitur cacat tubuh
atau kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan
sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“
(kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan
karena seringkali terdapat gangguan kesehatan. Sebagai contoh, otak
adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia. Apabila ada sesuatu yang
salah pada otak (luka atau infeksi), dapat mengakibatkan sesuatu pada
fisik/tubuh, pada emosi atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang
terjadi pada bagian otak baik sebelum, pada saat, maupun sesudah
kelahiran, menyebabkan retardasi dari mental (tunagrahita) 2.
Klasifikasi Penderita Tuna Daksa Pada dasarnya kelainan pada anak tuna
daksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan
pada sistem serebral (Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem
otot dan rangka (Musculus Skeletal System). a. Kelainan pada sistem
serebral (cerebral system disorders). Penggolongan anak tuna daksa
kedalam kelainan sistem serebral (cerebral) didasarkan pada letak
penyebab kelahiran yang terletak didalam sistem syaraf pusat (otak dan
sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syarap pusat
mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum
tulang belakang sumsum merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup
manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat
kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Kelompok
kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy (CL). Cerebral Palsy
dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi
anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
Penggolongan Menurut Derajat Kecacatan Menurut derajat kecacatan,
cerebal palsy dapat digolongkan atas : golongan ringan, golongan
sedang, dan golongan berat. 1. Golongan ringan adalah : mereka yang
dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong
dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup
bersama-sama dengan anak normal lainnya, meskipun cacat tetapi tidak
mengganggu kehidupan dan pendidikannya. 2. Golongan sedang : ialah
mereka yang membutuhkan treatment/latihan khusus untuk bicara,
berjalan, dan mengurus dirinya sendiri, golongan ini memerlukan
alat-lat khusus untuk membantu gerakannya, seperti brace untuk membantu
penyangga kaki, kruk/tongkat sebagai penopang dalam berjalan. Dengan
pertolongan secara khusus, anak-anak kelompok ini diharapkan dapat
mengurus dirinya sendiri. 3. Golongan berat : anak cerebral palsy
golongan ini yang tetap membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara,
dan menolong dirinya sendiri, mereka tidak dapat hidup mandiri
ditengah-tengah masyarakat. Penggolongan Menurut Tipografi Dilihat dari
tipografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh, Celebral Palsy
dapat digolongkan menjadi 6 (enam) golongan, yaitu: 1. Monoplegia,
hanya satu anggota gerak yang lumpuh misalnya kaki kiri, sedangkan kaki
kanan dan keduanya tangannya normal. 2. Hemiplegia, lumpuh anggota
gerak atas dan bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan dan kaki
kanan , atau tangan kiri dan kaki kiri. 3. Paraplegia, lumpuh pada
kedua tungkai kakinya. 4. Diplegia, kedua tangan kanan dan kiri atau
kedua kaki kanan dan kiri(paraple-gia). 5. Triplegia, tiga anggota
gerak mengalami kelumpuhan, misalnya tangan kanan dan kedua kakinya
lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh. 6. Quadriplegia,
anak jenis ini mengalami kelumpuhan seluruh anggota geraknya. Mereka
cacat pada kedua tangan dan kakinya. Quadriplegia bisa juga disebut
triplegia. Penggolongan Menurut Fisiologi Dilihat dari kelainan gerak
dilihat dari segi letak kelainan di otak dan fungsi geraknya(Motorik),
anak Cerebral Palsy dibedakan menjadi: 1. Spastik. Tipe ini ditandai
dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun
seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu akan digerakkan sesuai dengan
kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional kekakuan atau
kekejangan itu makin bertambah, sebaliknya dalam keadaan tenang, gejala
itu menjadi berkurang. Pada umumnya anak CP jenis spastik ini memiliki
tingkat kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Diantara mereka ada yang
normal bahkan ada yang diatsa normal. 2. Athetoid. Pada tipe ini tidak
terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat digerakkan dengan
mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem gerakan. Hampir semua
gerakan terjadi diluar kontrol dan koordinasi gerak. 3. Ataxia. Ciri
khas tipe ini adalah seakan-akan kehilangan keseimbangan,. Kekakuan
memang tidak tampak tetapi mengalami kekakuan pada waktu berdiri atau
berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem koordinasi
dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tuna tipe ini
mengalami gangguan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada saat
makan mulut terkatup terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan
sampai ujung mulut. 4. Tremor. Gejala yang tampak jelas pada tipe ini
adalah senantiasa dijumpai adanya gerakan-gerakan kecil dan
terus-menerus berlangsung sehingga tampak seperti bentuk
getaran-getaran. Gerakan itu dapat terjadi pada kepala, mata, tungkai,
dan bibir. 5. Rigid. Pada tipe ini didapat kekakuan otot, tetapi tidak
seperti pada tipe spastik, gerakannya tanpak tidak ada keluwesan,
gerakan mekanik lebih tampak. 6. Tipe Campuran. Pada tipe ini seorang
anak menunjukan dua jenis ataupun lebih gejala tuna CP sehingga
akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki
satu jenis/tipe kecacatan. b. Kelainan Pada Sistem Otot dan Rangka
(Musculus Scelatel System) Penggolongan anak tuna daksa kedalam
kelompok system otot dan rangka didasarkan pada letak penyebab kelainan
anggota tubuh yang mengalami kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi,
dan tulang belakang. Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara
lain meliputi: a. Poliomylitis. Penderita polio adalah mengalami
kelumpuhan otot sehingga otot akan mengecil dan tenaganya melemah,
peradangan akibat virus polio yang menyerang sumsum tulang belakang
pada anak usia 2 (dua) tahun sampai 6 (enam) tahun. b. Muscle
Dystrophy. Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada
penderita muscle dystrophy sifatnya progressif, semakin hari semakin
parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris yaitu pada kedua tangan
atau kedua kaki saja, atau kedua tangan dan kedua kakinya. Penyebab
terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti. Tanda-tanda
anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3
(tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak
lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering
terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri
dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda. 3. Penyebab
Tuna Daksa Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan
pada anak hingga menjadi tuna daksa. Kerusakan tersebut ada yang
terletak dijaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem
musculus skeletal. Adanya keragaman jenis tuna daksa dan masing-masing
kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya
kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan
sesudah lahir. a . Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal) Pada fase,
kerusakan terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan, kerusakan
disebabkan oleh: a. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu
mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya,
misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis. b. Kelainan
kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusat tertekan,
sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak. c. Bayi dalam
kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung mempengaruhi sistem syarat
pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu. d. Ibu yang sedang
mengandung mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan
terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan
perutnya membentur yang cukup keras dan secara kebetulan mengganggu
kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat. b. Sebab-sebab pada
saat kelahiran (fase natal, peri natal) Hal-hal yang dapat menimbulkan
kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antara lain: a. Proses
kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu kecil sehingga
bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen menyebabkan
terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi, akibatnya jaringan
syaraf pusat mengalami kerusakan. b. Pemakaian alat bantu berupa tang
ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak
jaringan syaraf otak pada bayi. c. Pemakaian anestasi yang melebihi
ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi
yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi,
sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya. c.
Sebab-sebab setelah proses kelahiran (fase post natal) Fase setelah
kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai masa perkembangan
otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun. Hal-hal yang dapat
menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah: a. Kecelakaan/trauma
kepala, amputasi. b. Infeksi penyakit yang menyerang otak. c.
Anoxia/hipoxia. 4. Karakteristik Anak Tuna Daksa Derajat keturunan akan
mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan,
kecenderungan untuk bersifat pasif. Demikianlah pada halnya dengan
tingkah laku anak tuna daksa sangat dipengaruhi oleh jenis dan derajat
keturunannya. Jenis kecacatan itu akan dapat menimbulkan perubahan
tingkah laku sebagai kompensasi akan kekurangan atau kecacatan.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tuna daksa cenderung merasa malu,
rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari llingkungan. Disamping
karakteristik tersebut terdapat beberapa problema penyerta bagi anak
tuna daksa antara lain: a. Kelainan perkembangan/intelektual. b.
Gangguan pendengaran. c. Gangguan penglihatan. d. Gangguan taktik dan
kinestetik. e. Gangguan persepsi f. Gangguan emosi. 5. Implikasi
Pendidikan Anak Tuna Daksa Dalam dunia pendidikan pada prinsipnya guru
mempunyai peranan ganda. Disatu pihak, guru berfungsi sebagai pengajar,
pendidik, dan pelatih bagi anak didik. Dipihak lain, guru berfungsi
sebagai pengganti orang tua murid di sekolah. Dengan demikian secara
tidak langsung mereka dituntut untuk menjadi manusia serba bisa dan
serba biasa, lebih-lebih bila dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan
pada saat ini, yaitu bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya masih
mempunyai anggapan yang keliru. Mereka berpendapat bahwa berhasil atau
tidaknya pendidikan anak-anak mereka diserahkan sepenuhnya pada pihak
sekolah, termasuk didalamnya para guru, tanpa ikut campur mereka.
Keadaan semacam ini lebih komplit lagi dalam dunia pendidikan luar
biasa karena subjek didik yang dihadapi memiliki
keterbatasan-keterbatasan tertentu, baik kemanpuan fisik, mental, emosi
maupun dalam usaha penyesuaian diri dengan pihak luar atau lingkunagan
sekitar. Oleh karena itu, tugas guru semakin berat yang dituntut
keahlian serta keterampilan tertentu, baik dalam bidang metedologi yang
bersifat khusus, maupun dalam bidang pelayanan terapi. Pelayanan terapi
yang diperlukan anak tuna daksa antara lain: - Latihan wicara (speech
Therapy) - Fisioterapi - Occupational therapy - Hydro Therapy Anak tuna
daksa pada dasarnya sama dengan anak-anak normal lainnya. Kesamaan
tersebut dapat dilihat dari fisik dan psiko-sosial. Dari segi fisik,
mereka dapat makan, minum, dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam
beberapa menit yaitu bernafas. Sedangkan dari aspek psiko-sosial,
mereka memerlukan rasa aman dalam bermobilisasi, perlu afiliasi, butuh
kasih sayang dari orang lain, diterima dan perlu pendidikan. Adapun
unsur kesamaan kebutuhan antara anak tuna daksa dan anak normal, karena
pada dasarnya mereka memiliki fitrah yang sama sebagai manusia.
Pandangan yang melihat anak tuna daksa dan anak normal dari sudut
kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang
semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa
orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang
muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita
melihat anak tuna daksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu,
pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tuna daksa perlu
dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik
semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tuna daksa
perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan
masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Anak-anak tuna daksa diharapkan memiliki masa
depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat. 6.
Pelayanan Pendidikan Tuna Daksa Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan
bagi anak tidak selalu harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan
khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tuna daksa) pendidikannya
dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini
disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tuna daksa dan
lingkungannya. Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984)
menjelaskan system layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk
anak tuna daksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas
dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan disuatu rumah
sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna
edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tuna
daksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan
sehari-hari. Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tuna daksa memiliki
problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang
anak tuna daksa yang satu dengan anak tuna daksa yang lainnya,
tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya.
Atas dasar kondisi anak tuna daksa tersebut, maka model pelayanan
pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah
Terpadu/Inklusi”. a. Sekolah Khusus Pelayanan pendidikan bagi anak tuna
daksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai
problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti
retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan)
dan emosinya. Pelayanan pendidikan di sekolah khusus ini dibagi menjadi
dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa ringan, dan
unit sekolah khusus bagi anak tuna daksa sedang. Sekolah Khusus Untuk
Anak Tuna Daksa Ringan (SLB-D) Pelayanan pendidikan diunit tuna daksa
ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tuna daksa yang tidak mempunyai
problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tuna daksa yang
mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata
intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di
sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan
terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational
therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tuna daksa
tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajat kecacatannya
terlalu berat. Sekolah Khusus untuk Anak Tuna daksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan di unit ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa
yang mempunyai problema seperti emosi, persepsi atau campuran dari
ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak
tuna daksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak
normal. b. Sekolah Terpadu/Inklusi Bagi anak tuna daksa dengan problema
penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta
retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan
pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah
reguler/sekolah umum. Karena anak tuna daksa tersebut sudah dapat
mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya.
Walaupun kondisi penyerta anak tuna daksa cukup ringan, sekolah reguler
yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang
terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti
persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau
tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi
roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya
seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan
dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih
terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tuna
daksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak
yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat
membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tuna
daksa dikemudian hari.
SUMBER BUKU OLARAGA ADAPTIF

mengenal anak Autis Tuna Grahita


Mengenal Autis dan Tuna Grahita


Banyak diantar kita yang rancu membedakan antara autis dan tuna grahita. Tulisan ringkas ini mungkin bisa menambah informasi kita untuk lebih memahami dua hal tersebut, walaupun gejala-gejala yang diderita oleh anak autis dan  tuna grahita memiliki kemiripan.
Autisme diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial yang tidak normal, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme empat kali lebih banyak menyerang anak laki-laki dari pada anak perempuan.
Tanda - tanda Autisme
  • Tidak bisa menguasai atau sangat lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari
  • Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata
  • Mata yang tidak jernih atau tidak bersinar
  • Tidak suka atau tidak bisa atau atau tidak mau melihat mata orang lain
  • Hanya suka akan mainannya sendiri (kebanyakan hanya satu mainan itu saja yang dia mainkan)
  • Serasa dia punya dunianya sendiri
  • Tidak suka berbicara dengan orang lain
  • Tidak suka atau tidak bisa menggoda orang lain
Penyebab Autisme
Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang lainnya mengenai hal ini.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B yang termasuk dalam MMR (Mumps, Measles dan Rubella )bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder.
Tapi hal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Hal ini berdebatkan karena tidak adanya bukti yang kuat bahwa imunisasi ini penyebab dari autisme, tetapi imunisasi ini diperkirakan ada hubungannya dengan Autisme.
Tunagrahita
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi. dan rahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.
Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
  • Lemah fikiran ( feeble-minded)
  • Terbelakang mental (Mentally Retarded)
  • Bodoh atau dungu (Idiot)
  • Pandir (Imbecile)
  • Tolol (moron)
  • Oligofrenia (Oligophrenia)
  • Mampu Didik (Educable)
  • Mampu Latih (Trainable)
  •  Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat
  • Mental Subnormal
  • Defisit Mental
  • Defisit Kognitif
  • Cacat Mental
  • Defisiensi Mental
  • Gangguan Intelektual
 American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tunagrahita sebagai kelainan: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes, yang muncul sebelum usia 16 tahun, yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku. Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut:  EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
Untuk terapi autis, dikenal ada 4 metode terapi:
  • Terapi Perilaku
  • Terapi Wicara
  • Terapi Biomedik
  • Terapi Integrasi sensoris 
dikutip dari Wikipedia dan berbagai sumber

pendidikan jasmani adaptif


BAB I
1. Pengertian Pendidikan Jasmani Adaptif
Secara mendasar pendidikan jasmani adaptif adalah sama dengan pendidikan jasmani biasa. Pendidikan jasmani merupakan salah satu aspek dari seluruh proses pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan jasmani adaptif merupakan suatu sistem penyampaian layanan yang bersifat menyeluruh (comprehensif) dan dirancang untuk mengetahui, menemukan dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor. Hampir semua jenis ketunaan Anak Luar Biasa memiliki masalah dalam ranah psikomotor. Masalah psikomotor sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan sensomotorik, keterbatasan dalam kemampuan belajar. Sebagian Anak Luar Biasa bermasalah dalam interaksi sosial dan tingkah laku. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa peranan pendidikan jasmani bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sangat besar dan akan mampu mengembangkan mengkoreksi kelainan dan keterbatasan tersebut.
2. Ciri dari Program Pengajaran Penjas Adaptif
Sifat program pengajaran pendidikan jasmani adaptif memiliki ciri khusus yang menyebabkan nama pendidikan jasmani ditambah dengan kata adaptif. Adapun ciri tersebut adalah:
  • Program Pengajaran Penjas adaptif disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kelainan siswa. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa yang berkelainan berpartisipasi dengan aman, sukses, dan memperoleh kepuasan. Misalnya bagi siswa yang memakai kursi roda satu tim dengan yang normal dalam bermain basket, ia akan dapat berpartisipasi dengan sukses dalam kegiata tersebut bila aturan yang dikenakan kepada siswa yang berkursi roda dimodifikasi. Demikian dengan olahraga lainnya. Oleh karena itu pendidikan jasmani adaptif akan dapat membantu dan menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat membantu dan mengkoreksi kelainan yang disandang oleh siswa. Kelainan pada Anak Luar Biasa bisa terjadi pada kelainan fungsi postur, sikap tubuh dan pada mekanika tubuh. Untuk itu, program pengajaran pendidikan jasmani adaptif harus dapat membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi yang memperburuk keadaannya.
  • Program Pengajaran Penjas adaptif harus dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan jasmani individu ABK. Untuk itu pendidikan jasmani adaptif mengacu pada suatu program kesegaran jasmani yang progresif, selalu berkembang dan atau latihan otot-otot besar. Dengan demikian tingkat perkembangan ABK akan dapat mendekati tingkat kemampuan teman sebayanya. Apabila program pendidikan jasmani adaptif dapat mewujudkan hal tersebut diatas, maka pendidikan jasmani adaptif dapat membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan siswa memiliki harga diri. Perasaan ini akan dapat membawa siswa berperilaku dan bersikap sebagai subyek bukan sebagai obyek dilingkungannya.
3. Tujuan Pendidikan Jasmani Adaptif
Sebagaimana dijelaskan diatas betapa besar dan strategisnya peran pendidikan jasmani adaptifdalam mewujudkan tujuan pendidikan bagi ABK, maka Prof. Arma Abdoellah, M.Sc. dalam buku yang berjudul “Pendidikan Jasmani Adaptif” memerinci tujuan pendididkan jasmani adaptif bagi ABK sebagai berikut:
  1. Untuk menolong siswa mengkoreksi kondisi yang dapat diperbaiki.
  2. Untuk membantu siswa melindungi diri sendiri dari kondisi apapun yang memperburuk keadaannya melalui Penjas tertentu.
  3. Untuk memberikan kesempatan pada siswa mempelajari dan berpartisipasi dalam sejumlah macam olahraga dan aktivitas jasmani, waktu luang yang bersifat rekreasi.
  4. Untuk menolong siswa memahami keterbatasan kemampuan jasmani dan mentalnya.
  5. Untuk membantu siswa melakukan penyesuaian sosial dan mengembangkan perasaan memiliki harga diri.
  6. Untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap mekanika tubuh yang baik.
  7. Untuk menolong siswa memahami dan menghargai macam olahraga yang dapat diminatinya sebagai penonton.
4. Modifikasi dalam Pendidikan Jasmani Adaptif
Bila dilihat masalah dari kelainannya, jenis ABK dikelompokkan menjadi:
  • ABK yang memiliki masalah dalam sensoris
  • ABK yang memiki masalah dalam gerak dan motoriknya
  • ABK yang memiliki masalah dalam belajar
  • ABK yang memiliki masalah dalam tingkah laku
Dari masalah yang disandang dan karakteristik setiap jenis ABK maka menuntut adanya penyesuaian dan modifikasi dalam pengajaran Pendidikan Jasmani bagi ABK. Penyesuaian dan modifikasi dari pengajaran penjas bagi ABK dapat terjadi pada:
  1. Modifikasi aturan main dari aktivitas pendidikan jasmani.
  2. Modifikasi keterampilan dan tekniknya.
  3. Modifikasi teknik mengajarnya.
  4. Modifikasi lingkungannya termasuk ruang, fasilitas dan peralatannya.
Seorang ABK yang satu dengan yang lain, kebutuhan aspek yang dimodifikasi tidak sama. ABK yang satu mungkin membutuhkan modifikasi tempat dan arena bermainnya. ABK yang lain mungkin membutuhkan modifikasi alat yang dipakai dalam kegiatan teraebut. Tetapi mungkin yang lain lagi disamping membutuhkan modifikasi area bermainnya juga butuh modifikasi alat dan aturan mainnya. Demikian pula seterusnya, tergantung dari jenis masalah, tingkat kemampuan dan karakteristik dan kebutuhan pengajaran dari setiap jenis ABK.
BAB II
A. Pengertian dan Kerakteristik Tunagrahita
1. Pengertian
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi. Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental. Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
1. Lemah fikiran ( feeble-minded)
2. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
3. Bodoh atau dungu (Idiot);
4. Pandir (Imbecile);
5. Tolol (moron);
6. Oligofrenia (Oligophrenia);
7. Mampu Didik (Educable);
8. Mampu Latih (Trainable);
9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
10. Mental Subnormal;
11. Defisit Mental
12. Defisit Kognitif;
13. Cacat Mental;
14. Defisiensi Mental;
15. Gangguan Intelektual
American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut: 1. EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
Ada beberapa pengertian tunagrahita menurut beberapa ahli.
  • Tunagrahita ialah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata (Somantri,2006:103). Istilah lain untuk siswa (anak) tunagrahita dengan sebutan anak dengan hendaya perkembangan. Diambil dari kata Children with developmental impairment. Kata impairment diartika sebagai hendaya atau penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampauan dalam segi kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas (American Heritage Dictionary,1982: 644; Maslim.R.,2000:119 dalam Delphie:2006:113).
  • Penyandang tunagrahita (cacat ganda) adalah seorang yang mempunyai kelainan mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu, adakalanya cacat mental dibarengi dengan cacat fisik sehingga disebut cacat ganda (http//.panti.tripod.com/2-10-07). Misalnya, cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan (cacat pada mata), ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran. Adanya cacat lain yang dimiliki selain cacat intelegensi inilah yang menciptakan istilah lain untuk anak tunagrahita yakni cacat ganda.
Penanganan pada setiap ABK memiliki cara tersendiri.Mulai dari segi akademik, pribadi dan sosial mereka. Semuanya disesuaikan dengan kondisi fisik dan mental mereka.
2.  Karateristik Tunagrahita
  1. Tunagrahita Ringan
Anak yang tergolong dalam tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
  1. Tunagrahita Sedang
Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.
  1. Tunagrahita Berat
Anak tunagrahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak tunagrahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.
Dengan demikian, seorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga faktor, yaitu:
    1. Keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata
    2. Ketidakmampuan dalam perilaku adaptif
    3. Terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.
Keterbelakangan mental yang biasa dikenal dengan anak tunagrahita biasanya dihubungkan dengan tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).
  1. Tuna grahita ringan biasanya memiliki IQ 70 –55
  2. Tunagrahita sedang biasanya memiliki IQ 55 – 40
  3. Tunagrahita berat biasanya memiliki IQ 40 – 25
  4. Tunagrahita berat sekali biasanya memiliki IQ <25
Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:
  1. Tunagrahita ringan IQnya 50 – 70
  2. Tunagrahita Sedang IQnya 30 – 50q
  3. Tunagrahita berat dan sangat berat IQnya kurang dari 30

BAB III
1. Permainan untuk tuna grahita
            Pernahkah anda mengenal olahraga bocce, di indonesia permainan ini memang di kembangkan untuk di sable intelektual, tapi di luar negri sudah memasyarakat sudah di kompetisikan.
            Pertandingan bocce semacam melempar bola khususnya bagi anak-anak tuna grahita, di mainkan dengan penuh kegembiraan yang mewarnai pertandingan dalam Spesial Olympics indonesia (soina) yang berkerjasama dengan PT. Mattel Indonesia mengadakan kompetisi bocce dan sepak kelimaan (bocce and lima A-Side Soccer Game) di taman rekreasi Wiladatika, Cibubur pada 28 Nopember 2010. Kegiatan ini di ikuti oleh tiga propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten dengan total peserta 233 atlit offiscial.
Pertandingan bocce hari ini adalah permainan bocce modifikasi, cara permainanya adalah, adanya bola sasaran yang di gantung 3 buah, 1 berukuran kecil dan 2 berukuran besar, bola kecil yang letaknya di tengah di apit bola besar disisi kiri dan kanan bola besar.  Bola kecil adalah poin tertinggi bagi yang mengenai sasaran. Setiap anak-anak di beri kesempatan untuk melempar sebanyak 3x dengan menggunakan bola yang ukuranya bola besar.
 Bagi anak-anak yang mengenai sasaran bola kecil mendapatkan poin 2, dan bagi yang mengenai bola besar mendapatkan poin 1, bagi yang mendapatkan poin tertinggi dari tiga kali kesempatan melempar, dia di tetapkan sebagai pemenang yang di berikan hadiah sebagai motivasi bagi anak-anak lain.